Afrika Selatan berencana untuk memproduksi 12 juta ton hidrogen hijau setiap tahunnya pada tahun 2050, dengan lebih dari setengahnya akan diekspor ke negara-negara tetangga untuk dekarbonisasi, seperti yang dilaporkan oleh Bloomberg pada tanggal 15 November. Masopha Moshoeshoe, seorang spesialis ekonomi hijau di kantor investasi dan infrastruktur Kepresidenan Afrika Selatan, menyampaikan rencana tersebut pada pertemuan COP27 di Mesir. Menurut Moshoeshoe, Afrika Selatan bertujuan untuk menarik investasi sebesar USD250 miliar untuk industri hidrogen hijau yang sedang berkembang pada tahun 2050. Pada saat itu, negara ini akan memproduksi 8 juta ton bahan bakar pembakaran bersih dan turunannya untuk ekspor, serta 2 hingga 5 juta ton untuk memenuhi permintaan lokal.
Afrika Selatan berniat untuk memanfaatkan sumber daya tenaga angin dan matahari yang melimpah untuk beralih dari ekonomi yang bergantung pada batu bara, yang menyumbang lebih dari 80% output listrik negara. Namun, transisi ini berarti kapasitas pembangkit listrik terbarukan di negara ini harus mencapai antara 140.000 hingga 300.000 megawatt (MW), dibandingkan dengan kapasitas pembangkit listrik saat ini yang hanya sekitar 40.000 MW. Selain itu, diperlukan pembangunan elektroliser secara besar-besaran untuk membuat hidrogen hijau dari air. Afrika Selatan dan lima negara lainnya dari Aliansi Hidrogen Hijau Afrika (AGHA) bertaruh pada permintaan hidrogen dunia yang terus meningkat. Menurut sebuah laporan analitis dari McKinsey, jika pemerintah di seluruh dunia memenuhi komitmen mereka yang ada untuk mengurangi emisi, permintaan global untuk hidrogen hijau yang diproduksi menggunakan energi terbarukan akan melonjak tujuh kali lipat dari tingkat saat ini menjadi 67 juta ton pada tahun 2050. Dalam skenario tersebut, enam anggota AGHA dapat memasok lebih dari seperlima konsumsi hidrogen hijau dunia.
Sumber:
https://www.dw.com/en/germany-bets-on-global-green-hydrogen-economy/a-63757016
