SK Ecoplant, unit bisnis ramah lingkungan dari SK Group [210980:KS], akan berkolaborasi dengan China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) [601668:CH], kontraktor konstruksi terbesar di dunia, dalam sebuah proyek energi terbarukan senilai USD1,9 milyar di Mesir, seperti yang dilaporkan oleh Korea Economic Daily pada tanggal 29 Februari. Proyek ini melibatkan pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang 778 megawatt (MW), termasuk 500 MW dari tenaga surya dan 278 MW dari angin darat. Selain itu, kedua perusahaan berencana untuk membangun sistem elektrolisis air berkapasitas 250 MW yang menggunakan energi terbarukan untuk memproduksi 50.000 ton hidrogen hijau setiap tahunnya, serta fasilitas yang mengubah hidrogen menjadi 250.000 ton amonia hijau untuk diekspor. Dengan total investasi sekitar KRW2,6 triliun (USD1,9 miliar), proyek ini diharapkan dapat mulai beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2029.
Proyek ini merupakan proyek bersama pertama yang dikembangkan di bawah nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani oleh SK Ecoplant dan CSCEC pada bulan Januari 2023. Menurut MOU tersebut, kedua belah pihak menargetkan pasar energi terbarukan yang belum dieksplorasi di Afrika, Asia, dan daratan Tiongkok. Bae Sung-joon, kepala bisnis energi SK Ecoplant, menggarisbawahi tingginya potensi produksi dan ekspor hidrogen hijau di negara-negara Afrika seperti Mesir karena sumber daya energi terbarukan yang kaya dan lokasi yang luas. Selain itu, proyek hidrogen hijau ini merupakan bagian dari tujuh perjanjian yang baru-baru ini ditandatangani oleh Mesir dengan pengembang internasional. Dengan investasi gabungan lebih dari USD40 miliar, perjanjian-perjanjian ini berfokus pada implementasi proyek hidrogen hijau dan energi terbarukan di Zona Ekonomi Terusan Suez (SCZONE) selama satu dekade ke depan.
Skekuatan:
